Sabtu, 23 Desember 2017

Sebutir Cinta di Ujung Tahun (Catatan Vocational Camp Di Argalingga)


Ujian semester satu pun berlalu, saatnya kami menikmati masa masa liburan semester yang selalu kami nantikan untuk melepas penat setelah melewati ujian-ujian sekolah yang sangat memusingkan. Canda tawa pun kembali mewarnai hari hari kami. Tiba saatya tanggal 18 Desember 2017, kami pun mendapatkan kesempatan untuk pengabdian kepada masyarakat dan belajar bertani di desa Argalingga kecamatan Argalingga kabupaten Majalengka. kami pun menyambut tanggal 18 dengan semangat yang sangat membara meskipun kami tahu desa Argalingga sangatlah dingin dan jauh dari pusat kota.
Perjalanan pun dimulai. Kami pergi meninggalkan MA DAARUL ULUUM PUI MAJALENGKA yang kami banggakan menuju desa Argalingga dengan menggunakan mobil khas kota Majalengka yaitu mobil elf yang sangat banyak ditemukan di Majalengka. Sambil menikmati panorama sepanjang jalan menuju desa Argalingga gelak tawa pun hadir dan ikut memeriahkan perjalanan kami. Jalan yang berliku dan tikungan yang tajam tak membuat kami merasa risau dan takut karena kami tidak sendiri dan kami saling mengerti bahwa arena menuju desa Argalingga sangat ekstreme.
Akhirnya, kami tiba di Masjid kebanggaan warga desa Argalingga dan pusat pemerintahan desa Argalingga. Rasa risau dan takut diperjalanan hilang setelah melihat indahnya gunung ciremai yang menjulang tinggi dan ladang – ladang yang tersusun rapih dengan ditanami sayur mayur yang segar. Lalu kami pun masuk kedalam balai desa Argalingga dan mengikuti serangkaian acara pembukaan dengan khidmat.
Karena kami mendapati rumah di blok Taman, kami pun harus turun lagi agar sampai kerumah kami. Setelah kami tiba dirumah kami sangat takjub akan fasilitas rumah yang sudah lengkap dan kebutuhan air yang sudah memumpuni. Kami sangat bersyukur atas rahmat dari-Nya yang menempatkan kami ditempat yang terbaik meskipun jarak yang sangat jauh untuk akses ke pusat desa dan lokasi pariwisata yang terkenal di desa Argalingga.
Pengabdian pun dimulai. Untuk hari pertama kami menikmati indahnya blok Taman dan mencari kertas putih untuk kami tulisi dengan tinta dan pena yang telah kami sediakan sebelumnya. Namun, untuk hari pertama kami belum bisa menimba ilmu diladang petani. Lalu, kami pun mendapati lapangan yang luas untuk kita main disana bersama para kertas kosong kami. Selain itu juga, kami mengabdi kepada masyarakat dengan upaya memperbaiki setrika yang rusak. Namun apa daya, kami pun tidak menemukan satupun masyarakat yang mempunyai setrika rusak tapi tak apalah masih banyak yang kami bisa berikan pada masyarakat blok Taman. Dan juga, kami mengikuti tradisi tradisi masyarakat desa Argalingga seperti sholawatan ke setiap rumah dan tahlilan di rumah yang dirundung duka karena orang yang dicintainya mendahuluinya. Terbenamnya matahari menandakan waktu maghribpun tiba. Kami pun masih melakukan pengabdian kami dengan mengajarkan ilmu agama kepada kertas kosong kami.dan langit pun berubah menjadi hitam  dan tiba saatnya untuk kita berkumpul dan merumuskan juga menginteropeksi diri akan kegiatan hari ini.
    Matahari tertutupi oleh awan hitam dan kabut yang teba di hari kedua. Walaupun seperti cuaca tak mendukung untuk keluar dari rumah, rasa pengabdian kami dan rasa ingin menimba ilmu di sini tak menyurutkan semangat kami. Kami pun kembali beraktifitas seperti hari pertama dan sayangnya ami pun belum bisa pergi keladang. Hari Selasa, hari yang spesial bagi kami, hari yang membuat kita jauh lebih dekat dan hari yang membuat pembimbing kami merasa bahagia dan senang karena hari itu adalah hari spesial bagi pembimbing kami. Kami pun merayakannya dengan sebuah hadiah kecil untuk pembimbing kami. Bahagianya kami ketika pembimbing kami tersenyum, tersentuh dan bahagia dengan apa yang kami telah siapakan.
    Dan hari selanjutanya, akhirnya kami bisa pergi keladang. Diladang pun kami hanya membersihkan rumput-rumput liar diantara tanaman – tanaman. Sebagian dari sahabat kami kembali manjalani aktifitas rutin kami dengan menggoreskan kembali ke kertas kosong kami.
    Hari Jum’at adalah hari yang mengesakan bagi kami. Kami akan menjelajahi lokasi pinus yang terkenal di sini. Kami pun bermain dan menyantap hidangan di alam terbuka desa argalingga. Canda tawa pun kembali mewarnai dan hadir di saat saat kami bersama. Oh... indahnya persahabatan walaupun kami hanya bersama selama satu minggu.
    Hari sabtu pun tiba. MILENIUM adalah kami dari semua siswa kelas dua belas. Kami berkumpul bersama di balai desa dan menyelenggarakan acara dengan masyarakat desa Argalingga. Cerianya kertas kosong kami, raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah para ibu dan para bapak desa Argalingga dan begitupun kami MILENIUM dengan semangat yang menggugah dan kebersamaan yang erat menyatukan rasa cinta yang haqiqi.
    Dan akhir cerita  di Argalingga pun datang. Hari Minggu adalah hari terakhir kami di desa Argalingga, tanggal 24 Desember 2017 menjadi saksi kami berpisah dengan masyarakat desa Argalingga. Rasa sedih, rindu menjadi sesuatu yang kami alami untuk saat ini. Suatu saat kami akan merindukan kebersamaan seperti ini. Kami akan rindu dengan menjulangnya gunung ciremai, hijaunya ladang ladang petani, ramahnya masyarakat sini dan kami tak bisa tuk lupakan adalah kertas kosong kami yang telah kami lukis, coret dan warnai hingga menimbulkan keakraban yang tak bisa kami lupakan. Entah kapan lagi kami bisa bersama seperti ini membuat cerita sehingga rasa cinta, keluarga dan keakraban terbangun, begitu pun rasa tolong menolong menjadi kenangan indah yang terukir di sini. Dan... di ujung tahun ini,kami mendapatakan sebuah kenangan indah yang tak akan kami sampai akhir nanti kita berpisah dan menjalani kehidupan secara pribadi.

0 komentar:

Posting Komentar